Total Tayangan Halaman

Kamis, 19 Mei 2011

BERITA UN

70 Persen Tak Lulus Karena Bahasa Indonesia
K1-11 | Heru Margianto | Senin, 16 Mei 2011 | 13:37 WIB

|
Share:
RODERICK ADRIAN MOZES/KOMPAS IMAGES


DENPASAR, KOMPAS.com — Bukan Matematika, bukan pula Bahasa Inggris, melainkan momok para siswa yang tidak lulus di Bali justru berasal dari mata pelajaran Bahasa Indonesia, yang sejak kecil telah diajarkan oleh orangtua. Ironisnya, 70 persen siswa yang tidak lulus gara-gara Bahasa Indonesia kebanyakan berasal dari sekolah negeri.

Fenomena siswa kesulitan mengerjakan soal Bahasa Indonesia ini sebenarnya bukan hal baru. Pada tahun-tahun sebelumnya juga banyak siswa yang gagal dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia. Usut punya usut, salah satu faktor yang menyebabkan anjloknya nilai Bahasa Indonesia karena sebagian siswa berpikir lebih baik menekuni Bahasa Inggris daripada Bahasa Indonesia karena lebih menjanjikan pada masa mendatang.

”Bahasa Indonesia kualitas dan bobot soal lebih kuat, selain itu telah terjadi euforia bilingual, yakni Bahasa Inggris, yang menurut siswa harus menonjol,” ujar Kepala Dinas Penididikan dan Olahraga (Disdikpora) Provinsi Bali Ida Bagus Anom.

"Ada juga yang menganggap bahwa pelajaran Bahasa Indonesia belum bisa menjanjikan ke depannya daripada pelajaran Bahasa Inggris," ujarnya.

Dalam ujian nasional tahun ini tak ada satu siswa pun yang meraih nilai sempurna dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia. Namun, menurunnya kualitas siswa dalam mengerjakan soal Bahasa Indonesia ini bukan karena lunturnya jiwa nasionalisme. "Bukan karena itu, tetapi banyak faktor yang seperti saya sebutkan tadi,” kata Anom.

Untuk tingkat kelulusan, Bali merupakan provinsi dengan nilai kelulusan tertinggi secara nasional. Dari 42.572 siswa SMA/MA/SMK yang mengikuti ujian nasional, hanya 20 siswa yang dinyatakan tidak lulus

Kamis, 05 Mei 2011

ARTIKEL PENDIDIKAN

Dua Jenis Guru
Di copas dari artikel Bapak RHENALD KASALI di Harian Seputar Indonesia, 5 Mei 2011
================================================
Di Hari Pendidikan lalu, saya bertemu dua jenis guru. Guru pertama adalah guru kognitif, sedangkan guru kedua adalah guru kreatif. Guru kognitif sangat berpengetahuan.Mereka hafal segala macam rumus, banyak bicara, banyak memberi nasihat, sayangnya sedikit sekali mendengarkan.
Sebaliknya, guru kreatif lebihbanyaktersenyum,namun tangan dan badannya bergerak aktif.

Sumber Gambar: http://id.wikipedia.org/wiki/Rhenald_Kasali
Setiap kali diajak bicara dia mulai dengan mendengarkan, dan saat menjelaskan sesuatu, dia selalu mencari alat peraga.Entah itu tutup pulpen, botol plastik air mineral,kertas lipat,lidi,atau apa saja. Lantaran jumlahnya hanya sedikit, guru kreatif jarang diberi kesempatan berbicara. Dia tenggelam di antara puluhan guru kognitif yang bicaranya selalu melebar ke mana-mana. Mungkin karena guru kognitif tahu banyak, sedangkan guru kreatif berbuatnya lebih banyak.
Guru Kognitif
Guru kognitif hanya mengajar dengan mulutnya.Dia berbicara panjang lebar di depan siswa dengan menggunakan alat tulis. Guru-guru ini biasanya sangat bangga dengan murid-murid yang mendapat nilai tinggi. Guru ini juga bangga kepada siswanya yang disiplin belajar, rambutnya dipotong rapi, bajunya dimasukkan ke dalam celana atau rok, dan hafal semua yang dia ajarkan. Bagi guru-guru kognitif, pusat pembelajaran ada di kepala manusia, yaitu brain memory.Asumsinya, semakin banyak yang diketahui seseorang, semakin pintarlah orang itu.
Dan semakin pintar akan membuat seseorang memiliki masa depan yang lebih baik. Guru kognitif adalah guruguru yang sangat berdisiplin. Mereka sangat memegang aturan, atau meminjam istilah para birokrat (PNS),sangat patuh pada ”tupoksi”.Saya sering menyebut mereka sebagai guru kurikulum. Kalau di silabus tertulis buku yang diajarkan adalah buku ”x” dan babbab yang diberikan adalah bab satu sampai dua belas,mereka akan mengejarnya persis seperti itu sampai tuntas.
Karena ujian masuk perguruan tinggi adalah ujian rumus, guru-guru kognitif ini adalah kebanggaan bagi anakanak yang lolos masuk di kampus-kampus favorit.Kalau sekarang, mereka adalah kebanggaan bagi siswa-siswa peserta UN. Sayangnya, sekarang banyak ditemukan anak-anak yang cerdas secara kognitif sulit menemukan ”pintu” bagi masa depannya.Anak-anak ini tidak terlatih menembus barikade masa depan yang penuh rintangan, lebih dinamis ketimbang di masa lalu, kaya dengan persaingan, dan tahan banting.
Saya sering menyebut anakanak produk guru kognitif ini ibarat kereta api Jabodetabek yang hanya berjalan lebih cepat daripada kendaraan lain karena jalannya diproteksi,bebas rintangan. Beda benar dengan kereta supercepat Shinkanzen yang memang cepat. Yang satu hanya menaruh lokomotif di kepalanya,sedangkan yang satunya lagi, selain di kepala, lokomotif ada di atas seluruh roda besi dan relnya.
Guru Kreatif
Ini guru yang sering kali dianggap aneh di belantara guru-guru kognitif.Sudah jumlahnya sedikit, mereka sering kali kurang peduli dengan tupoksi dan silabus. Mereka biasanya juga sangat toleran terhadap perbedaan dan cara berpakaian siswa. Tetapi, mereka sebenarnya guru yang bisa mempersiapkan masa depan anak-anak didiknya.Mereka bukan sibuk mengisi kepala anak-anaknya dengan rumus-rumus, melainkan membongkar anak-anak didik itu dari segala belenggu yang mengikat mereka.

Belenggu- belenggu itu bisa jadi ditanam oleh para guru, orang tua, dan tradisi seperti tampak jelas dalam membuat gambar (pemandangan, gunung dua buah, matahari di antara keduanya, awan, sawah, dan seterusnya). Atau belenggu-belenggu lain yang justru mengantarkan anak-anak pada perilaku-perilaku selfish, ego-centrism,merasa paling benar,sulit bergaul, mudah panik, mudah tersinggung, kurang berbagi, dan seterusnya.
Guru-guru ini mengajarkan life skills, bukan sekadar soft skills, apalagi hard skill. Berbeda dengan guru kognitif yang tak punya waktu berbicara tentang kehidupan, mereka justru bercerita tentang kehidupan (context) yang didiami anak didik. Namun, lebih dari itu, mereka aktif menggunakan segala macam alat peraga. Bagi mereka, memori tak hanya ada di kepala, tapi juga ada di seluruh tubuh manusia.
Memori manusia yang kedua ini dalam biologi dikenal sebagai myelin dan para neuroscientistmodern menemukan myelin adalah lokomotif penggerak (muscle memory). Di dalam ilmu manajemen, myelin adalah faktor pembentuk harta tak kelihatan (intangibles) yang sangat vital seperti gestures, bahasa tubuh, kepercayaan, empati, keterampilan,disiplin diri,dan seterusnya.
Saat bertemu guru-guru kognitif, saya sempat bertanya apakah mereka menggunakan alat-alat peraga yang disediakan di sekolah? Saya terkejut, hampir semua dari mereka bilang tidak perlu, semua sudah jelas ada di buku. Beberapa di antara mereka bahkan tidak tahu bahwa sekolah sudah menyediakan mikroskop dan alatalat bantu lainnya. Sebaliknya,guru-guru kreatif mengatakan: ”Kalau tidak ada alat peraga,kita akan buat sendiri dari limbah.
Kalau perlu, kita ajak siswa turun ke lapangan mengunjungi lapangan. Kalau tak bisa mendatangkan Bapak ke dalam kelas, kita ajak siswa ke rumah Bapak,”ujarnya. Saya tertegun. Seperti itulah guru-guru yang sering saya temui di negara-negara maju. Di negara-negara maju lebih banyak guru kreatif daripada guru kognitif. Mereka tak bisa mencetak juara Olimpiade Matematika atau Fisika,tetapi mereka mampu membuat generasi muda menjadi inovator, entrepreneur, dan CEO besar.
Mereka kreatif dan membukakan jalan menuju masa depan. Saat membuat disertasi di University of Illinois, para guru besar saya bukan memaksa saya membuat tesis apa yang mereka inginkan, melainkan mereka menggali dalam-dalam minat dan objektif masa depan saya. Sewaktu saya bertanya, mereka menjawab begini: ”Anda tidak memaksakan badan Anda pada baju kami, kami hanya membantu setiap orang untuk membuat bajunya sendiri yang sesuai dengan kebutuhannya.” Selamat merayakan Hari Pendidikan dan jadilah guru yang mengantarkan kaum muda ke jendela masa depan mereka.
RHENALD KASALI
Ketua Program MM UI

Jumat, 29 April 2011

AKU dan ANAKKU

PESAN

PESAN DARI SANG ISTRI
Hidup hanya (X)
Dosa jangan (+)
Amal jangan di (-)
Cinta jangan di (:)
Gugur bunga karena layu
Gugur iman karena nafsu
Gugur cinta karena cemburu...
Tertawa karena bahagia
Menangis karena bersedih
Bertobat karena dosa
Bersihkan hati..
Sucikan jiwa..
Mari jalani kehidupan dengan hati sabar dan tawaqal
Berbuat penuh keyakinan dan keikhlasan
Slalu diberi kesabaran...Amin
3 hal yang membuat kuat iman : iman, pengharapan, kasih
3 hal yang tidak akan dilupakan : cinta, kejujuran, persahabatan
3 hal yang tidak akan kembali : waktu, perkataan, kesempatan
3 hal yang membuat kita dewasa : kerja keras, kesetiaan, rasa syukur
Perhiasan terindah adalah kerendahan hati
Kasih yang teruji adalah kesetiaan
Kekayaan terbesar adalah kebijaksanaan
Harta terbaik adalah kejujuran
Senjata terkuat adalah kesabaran
Pengaman penting adalah iman
Dan obat termanjur adalah doa
(29 April 2011)

Selasa, 26 April 2011

http://www.4shared.com/file/P4tTm_GQ/Lirik_lagu_Smash_Versi_OVJ_Cen.html

PUISI

PUISI-PUISI REZA ORIZA AZKIYA
KAMPUNG IBUKU
Berada di antara bukit-bukit
Di tepi hutan pinus
Sungai mengalir jernih
Airnya taK pernah berhenti mengalir
Walau kemarau panjang
Udaranya sejuk
Hawa dingin

MATAHARIKU
Kabut putih menyelimuti langit
Menutup indahnya biru langit
Entah kapan engkau pergi
Hingga matahariku bersinar cerah
Matahariku...
Aku rindu cahayamu
Sungguh beberapa hari ini
Aku tak melihat wajahmu
(KAHYANGAN 2011)

Casey study

CASE STUDY

MELATIH KEPEDULIAN SISWA TERHADAP PENYAKIT ATAU KELAINAN DI SEKITAR KITA
Oleh : Maria Erlin Widihapsari, S. Pd.


Aku adalah seorang guru mata pelajaran Bahasa Indonesia di sebuah daerah yang lumayan jauh dari kota Wonogiri, tepatnya aku bekerja di SMP Kanisius Tirtomoyo. Aku mengajar Bahasa Indonesia untuk kelas 7 dan 9. Hari itu adalah hari Senin dan di sekolahku dilaksanakan upacara bendera. Setelah upacara, aku ada jam kosong jadi aku gunakan untuk persiapan mengajar. Hari Senin merupakan jadwalku mengajar kelas 9 dan untuk jam ke 3,4 selama 80 menit mulai pukul 08.40 ada di kelas 9A. Aku akan mengajarkan materi tentang iklan baris.
Bel jam ketiga berbunyi dan itu pertanda aku harus mulai mengajar mata pelajaran Bahasa Indonesia di kelas 9A. Aku bangkit berdiri dari tempat dudukku lalu kulihat jadwal mengajar hari Senin yang tertulis pada papan tulis putih yang menempel di dinding kantor guru. Aku lihat kode mengajarku J di kelas 9A. Aku masuk di kelas 9A memberikan salam lalu mengabsen siswa dan mengisi jurnal kelas serta agenda guru. Para siswa mempersiapkan diri untuk pembelajaran saat itu. Pada pertemuan ini aku akan melaksanakan pembelajaran kelas 9 Kompetensi Dasar : Menulis iklan baris dengan bahsa yang singkat, padat dan jelas. Indikatornya : (1) Mampu menyingkat kata-kata sesuai dengan kebiasaan iklan baris, (2) Mampu menulis iklan baris dengan bahasa yang singkat, padat dan jelas. Pada kegiatan awal atau pendahuluan aku memberikan penjelasan sedikit tentang iklan baris. Aku bertanya pada siswa, “ Siapa yang tahu tentang iklan baris?” tetapi tak satupun siswa yang menjawab. Mereka diam dan saling berpandangan dengan teman, kemudian aku berikan penjelasan pada mereka. Di saat aku mendirikan penjelasan ternyata ada juga siswa yang berbicara dengan temannya tanpa memedulikan aku yang melihatnya. Aku minta mereka untuk mempelajari materi tersebut dari buku paket Bahasa Indonesia kelas 9, kemudian aku minta mereka untuk mengambil surat kabar di perpustakaan. “Bukalah surat kabar tersebut yang isinya tentang iklan baris, lihat contoh yang ada di buku paketmu !” kataku menjelaskan. O, ini to Bu, kalau itu saya tahu,” kata salah satu muridku. Ternyata hal itu sudah mereka ketahui sebelumnya, tetapi karena mereka tidak tahu bahwa namanya itu iklan baris jadi mereka terlihat bingung.
Pada kegiatan inti pembelajaran, siswa aku minta masuk dalam kelompok yang sudah aku bentuk sejak awal tahun pelajaran, jadi setiap pelajaran Bahasa Indonesia sudah ada kelompok tetap. Dalam kelompok, saya minta mereka untuk mengamati beberapa contoh iklan baris yang ada di dalam surat kabar. Kemudian aku beri tugas untuk mencari kata-kata yang penulisannya mengalami penyingkatan kata dalam iklan baris. Setelah beberapa menit mereka mengerjakan, kemudian kita bahas bersama-sama dan ternyata masih ada kelompok yang menjawab salah karena mereka tidak mengerjakan dengan sungguh-sungguh.
Kegiatan berikutnya, saya minta siswa dalam kelompok dapat menulis iklan baris dengan bahasa yang singkat, padat dan jelas. Setiap kelompok diharapkan dapat menulis 5 iklan baris yang berbeda- beda jenisnya. Selama kegiatan kerja sama dalam kelompok berlangsung, aku amati ternyata belum semua anggota kelompok dapat terlibat aktif dan hanya siswa tertentu saja yang mengerjakan dengan sungguh-sungguh. Masih ada siswa yang ngobrol, bercanda dengan temannya tentang hal lain di luar materi, ada juga yang bernyanyi, bahkan ada juga yang diam saja. Setelah dirasa cukup waktu untuk mengerjakan tugas tadi, lalu aku lanjutkan dengan kegiatan saling melaporkan hasil pekerjaan setiap kelompok.
Pada kegiatan penutup, aku dan siswa bersama-sama membuat kesimpulan tentang hasil pembelajaran kita pada pertemuan hari ini dan mengumpulkan hasil pekerjaan siswa dalam kelompok tadi. Selain itu, aku juga memberikan tugas rumah pada siswa,dan memberikan sedikit cuplikan materi untuk pertemuan berikutnya. Bel kembali berbunyi dan itu pertanda aku harus menghentikan pembelajaran di kelas 9A ini. Dari pembelajaranku itu, ternyata aku bisa memanfaatkan peluang yang ada di sekitar kita. Apapun yang ada di sekitar kita dapat membantu proses pembelajaran semua mata pelajaran di sekolah.