Total Tayangan Halaman

Kamis, 20 Oktober 2011

RENUNGANKU


PROFILKU HARI INI
Manusia biasa tanpa  ada kelebihan apalagi keistimewaan. Lahir pada kondisi keluarga yang sederhana.
Ketika kita mendengar tujuan hidup, tentu dalam benak setiap orang adalah kebahagiaan. Di mana pada hari-harinya dihiasai dengan merasa gembira dan senang karena semua keinginannya telah terpenuhi. Selain itu juga ditandai dengan tercukupinya segala fasilitas dalam kehidupan baik secara material maupun spiritual. Sesungguhnya esensi yang mendalam dari kehidupan adalah berbuat baik bagi diri sendiri dan bisa bermanfaat.
Meninggalkan perbuatan yang tidak berguna, dan berbuat yang bermanfaat bagi diri kita dan orang lain. Setelah beberapa kali pernah mencoba untuk menjadi orang yang hebat dengan cara yang jahat tetapi beberapa kali juga gagal. Kemudian beberapa kali mencoba jadi orang luar biasa tetapi tetap saja biasa-biasa saja. Kegagalan yang membawa rasa kecewa sudah hal yang biasa bagi hidup kita. Gagal dalam urusan dunia seperti cita-cita,pendidikan, pekerjaan, dan urusan cinta sudah merupakan jalan yang harus dilewati. Pernah meratapi tetapi ternyata sia-sia belaka.
Disisa usia dan waktu akan mencoba hidup lebih bermakna untuk meneguhkan tujuan hidup, meneguhkan daya spiritual, memperbanyak rasa syukur. Untuk memotivasi lentera jiwa menjalani kehidupan dengan sederhana. Berbagi dengan diri sendiri mencoba memberi manfaat kepada orang lain, walaupun hanya satu orang. Semoga bisa terwujud, ada satu orang saja yang merasakan manfaat dari saya maka kebahagiaan bagi hidup

Rabu, 12 Oktober 2011

Media Pembelajaran PPT Unsur-unsur intrinsik cerpen. Pembelajaran sastra di sekolah sangat penting. Untuk dapat mempelajari sebuah cerpen siswa harus memahami unsur-unsur intrinsiknya.  Bagi yang membutuhkan dowload disini

Kamis, 11 Agustus 2011

MENULIS IKLAN

MATERI MENULIS IKLAN

Pengertian Iklan

Iklan memiliki berbagai macam jenis, berdasarkan sifatnya iklan dibedakan atas iklan niaga dan nonniaga. Iklan niaga dibuat untuk mempengaruhi khalayak/masyarakat supaya tertarik untuk memiliki, membeli, dan mengunakan produk yang diiklankan. Iklan nonniaga/layanan masyarakat dibuat untuk menarik perhatian masyarakat sehingga masyarakat mempunyai rasa simpati atau memberikan dukungan terhadap hal yang diiklankan.

Berdasarkan tujuan, iklan dibedakan atas iklan penawaran/permintaan dan iklan pengumuman. Sedangkan berdasarkan ruang/space, iklan dibedakan iklan baris dan displai. Iklan baris adalah iklan yang menggunakan bahasa singkat dan padat. Iklan baris biasanya disusun berdasarkan golongan yang sama. Misalnya: iklan penjualan rumah masuk dalam kolom properti atau rumah dijual.

Iklan lowongan pekerjaan dan mencari pekerjaan masuk golongan karier, misalnya: pada setiap surat kabar penggolongan iklan diberi nama yang berbeda-beda. Iklan baris memiliki beberapa komponen, yaitu: komponen aktivitas, produk yang diiklankan, spesifikasi produk, dan identitas pengiklan.

contoh iklan penawaran kredit rumah dari suatu bank berbentuk display
contoh iklan baris
Syarat-syarat Iklan
Syarat-syarat Iklan adalah sebagai berikut:

Dibuat dalam format kolom dan baris, hal ini untuk menghemat biaya pemasangan karena penghitungan biaya berdasarkan jumlah baris
Menggunakan singkatan atau akronim yang lazim digunakan, seperti: dijual= djl, cepat=cpt, murah=mrh, rumah=rmh.
Ditulis dengan ukuran yang sama, jumlah baris masimal 6 baris dan minimal 3 baris
Bahasa singkat, padat, hemat, bahasa yang digunakan sesingkat mungkin. Namun, mengandung informasi yang padat sesuai dengan keinginan pemasang iklan
Disusun berdasarkan jenis yang sama, penggolongan ditentukan oleh staf redaksi surat kabar/majalah

Istilah Iklan Baris

Dari contoh iklan baris di atas ada beberapa istilah yang digunakan dan disingkat yaitu:

cpt = cepat

djl = dijual

hub = hubungi

nego = negosiasi

mls = mulus

bgs = bagus

Jika kita analisis berdasarkan 4 komponen yang selalu ada dalam iklan baris dapat dilihat dalam tabel berikut.

Menentukan Objek

Mendeskripsikan Objek

Objek yang akan ditulis dalam iklan baris sebaiknya dideskripsikan terlebih dahulu. Mendeskripsikan objek dengan mempertanyakan apa, di mana, bagaimana, siapa, dan berapa. Dengan mempertanyakan objek tersebut maka dapat dideskripsikan konsep untuk iklan barisnya. Yang dimaksud dengan objek iklan dapat berupa benda ataupun jasa. Objek benda seperti: sepeda motor, mobil, rumah, dan objek jasa seperti lowongan pekerjaan.

Dalam prakteknya lebih banyak orang langsung membuat buram iklan di biro iklan tanpa mendeskripsikannya terlebih dahulu. Hal tersebut dapat dilakukan bila kita mengetahui spesifikasi, kondisi, dan pasaran harga produk tersebut. erhatikan contoh berikut ini!



Spesifikasi produk yang akan dijual:

mobil Toyota Yaris

Tahun pembuatan 2007

Kondisi bagus 98 %

Harga bersaing

Warna silver

Interior kulit asli

Kelengkapan DVD, TV, dan audio sistem

Iklan baris yang tepat untuk deskripsi tersebut:

Menulis Iklan Baris

Menyusun iklan baris berdasarkan objek yang telah dideskripsikan dengan menggunakan singkatan yang biasa ada pada iklan baris.

Misal:

cpt = cepat,

djl = dijual,

hub= hubungi.

Contoh:

Pak Amir ingin menjual sepeda motornya merek Hombra buatan tahun 2005 dengan harga 7 juta rupiah, sepeda motor tersebut dalam keadaan bagus 90 persen. Adapun rumah Pak Amir di Jalan Majapahit Nomot 77 Kota Padang dengan nomor telepon 557767.

Maka kemungkinan konsep iklan barisnya sebagai berikut:



Memperbaiki Kesalahanhttp://www.blogger.com/img/blank.gif

Menyunting iklan baris yang terdapat kesalahan dengan mengacu kepada ketentuan penggunaan bahasa yang lazim digunakan dalam iklan baris. Contoh iklan baris yang kurang jelas.

Contoh iklan baris di atas kurang jelas karena tidak memenuhi 4 komponen penulisan iklan baris yaitu, kegiatannya, barangnya, spesifikasinya, dan identitas penjualnya. Pada iklan di atas baru ada 2 komponen yaitu kegiatan dan barangnya sedangkan spesifikasi dan identitasnya tidak ada

Maksudnya dijual sebuah rumah dalam kondisi bagus, peminat diharapkan menghubungi nomor 554387. Iklan ini tidak menyebutkan lokasi dan luas tanah serta bangunannya, juga status tanahnya.

Kamis, 19 Mei 2011

BERITA UN

70 Persen Tak Lulus Karena Bahasa Indonesia
K1-11 | Heru Margianto | Senin, 16 Mei 2011 | 13:37 WIB

|
Share:
RODERICK ADRIAN MOZES/KOMPAS IMAGES


DENPASAR, KOMPAS.com — Bukan Matematika, bukan pula Bahasa Inggris, melainkan momok para siswa yang tidak lulus di Bali justru berasal dari mata pelajaran Bahasa Indonesia, yang sejak kecil telah diajarkan oleh orangtua. Ironisnya, 70 persen siswa yang tidak lulus gara-gara Bahasa Indonesia kebanyakan berasal dari sekolah negeri.

Fenomena siswa kesulitan mengerjakan soal Bahasa Indonesia ini sebenarnya bukan hal baru. Pada tahun-tahun sebelumnya juga banyak siswa yang gagal dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia. Usut punya usut, salah satu faktor yang menyebabkan anjloknya nilai Bahasa Indonesia karena sebagian siswa berpikir lebih baik menekuni Bahasa Inggris daripada Bahasa Indonesia karena lebih menjanjikan pada masa mendatang.

”Bahasa Indonesia kualitas dan bobot soal lebih kuat, selain itu telah terjadi euforia bilingual, yakni Bahasa Inggris, yang menurut siswa harus menonjol,” ujar Kepala Dinas Penididikan dan Olahraga (Disdikpora) Provinsi Bali Ida Bagus Anom.

"Ada juga yang menganggap bahwa pelajaran Bahasa Indonesia belum bisa menjanjikan ke depannya daripada pelajaran Bahasa Inggris," ujarnya.

Dalam ujian nasional tahun ini tak ada satu siswa pun yang meraih nilai sempurna dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia. Namun, menurunnya kualitas siswa dalam mengerjakan soal Bahasa Indonesia ini bukan karena lunturnya jiwa nasionalisme. "Bukan karena itu, tetapi banyak faktor yang seperti saya sebutkan tadi,” kata Anom.

Untuk tingkat kelulusan, Bali merupakan provinsi dengan nilai kelulusan tertinggi secara nasional. Dari 42.572 siswa SMA/MA/SMK yang mengikuti ujian nasional, hanya 20 siswa yang dinyatakan tidak lulus

Kamis, 05 Mei 2011

ARTIKEL PENDIDIKAN

Dua Jenis Guru
Di copas dari artikel Bapak RHENALD KASALI di Harian Seputar Indonesia, 5 Mei 2011
================================================
Di Hari Pendidikan lalu, saya bertemu dua jenis guru. Guru pertama adalah guru kognitif, sedangkan guru kedua adalah guru kreatif. Guru kognitif sangat berpengetahuan.Mereka hafal segala macam rumus, banyak bicara, banyak memberi nasihat, sayangnya sedikit sekali mendengarkan.
Sebaliknya, guru kreatif lebihbanyaktersenyum,namun tangan dan badannya bergerak aktif.

Sumber Gambar: http://id.wikipedia.org/wiki/Rhenald_Kasali
Setiap kali diajak bicara dia mulai dengan mendengarkan, dan saat menjelaskan sesuatu, dia selalu mencari alat peraga.Entah itu tutup pulpen, botol plastik air mineral,kertas lipat,lidi,atau apa saja. Lantaran jumlahnya hanya sedikit, guru kreatif jarang diberi kesempatan berbicara. Dia tenggelam di antara puluhan guru kognitif yang bicaranya selalu melebar ke mana-mana. Mungkin karena guru kognitif tahu banyak, sedangkan guru kreatif berbuatnya lebih banyak.
Guru Kognitif
Guru kognitif hanya mengajar dengan mulutnya.Dia berbicara panjang lebar di depan siswa dengan menggunakan alat tulis. Guru-guru ini biasanya sangat bangga dengan murid-murid yang mendapat nilai tinggi. Guru ini juga bangga kepada siswanya yang disiplin belajar, rambutnya dipotong rapi, bajunya dimasukkan ke dalam celana atau rok, dan hafal semua yang dia ajarkan. Bagi guru-guru kognitif, pusat pembelajaran ada di kepala manusia, yaitu brain memory.Asumsinya, semakin banyak yang diketahui seseorang, semakin pintarlah orang itu.
Dan semakin pintar akan membuat seseorang memiliki masa depan yang lebih baik. Guru kognitif adalah guruguru yang sangat berdisiplin. Mereka sangat memegang aturan, atau meminjam istilah para birokrat (PNS),sangat patuh pada ”tupoksi”.Saya sering menyebut mereka sebagai guru kurikulum. Kalau di silabus tertulis buku yang diajarkan adalah buku ”x” dan babbab yang diberikan adalah bab satu sampai dua belas,mereka akan mengejarnya persis seperti itu sampai tuntas.
Karena ujian masuk perguruan tinggi adalah ujian rumus, guru-guru kognitif ini adalah kebanggaan bagi anakanak yang lolos masuk di kampus-kampus favorit.Kalau sekarang, mereka adalah kebanggaan bagi siswa-siswa peserta UN. Sayangnya, sekarang banyak ditemukan anak-anak yang cerdas secara kognitif sulit menemukan ”pintu” bagi masa depannya.Anak-anak ini tidak terlatih menembus barikade masa depan yang penuh rintangan, lebih dinamis ketimbang di masa lalu, kaya dengan persaingan, dan tahan banting.
Saya sering menyebut anakanak produk guru kognitif ini ibarat kereta api Jabodetabek yang hanya berjalan lebih cepat daripada kendaraan lain karena jalannya diproteksi,bebas rintangan. Beda benar dengan kereta supercepat Shinkanzen yang memang cepat. Yang satu hanya menaruh lokomotif di kepalanya,sedangkan yang satunya lagi, selain di kepala, lokomotif ada di atas seluruh roda besi dan relnya.
Guru Kreatif
Ini guru yang sering kali dianggap aneh di belantara guru-guru kognitif.Sudah jumlahnya sedikit, mereka sering kali kurang peduli dengan tupoksi dan silabus. Mereka biasanya juga sangat toleran terhadap perbedaan dan cara berpakaian siswa. Tetapi, mereka sebenarnya guru yang bisa mempersiapkan masa depan anak-anak didiknya.Mereka bukan sibuk mengisi kepala anak-anaknya dengan rumus-rumus, melainkan membongkar anak-anak didik itu dari segala belenggu yang mengikat mereka.

Belenggu- belenggu itu bisa jadi ditanam oleh para guru, orang tua, dan tradisi seperti tampak jelas dalam membuat gambar (pemandangan, gunung dua buah, matahari di antara keduanya, awan, sawah, dan seterusnya). Atau belenggu-belenggu lain yang justru mengantarkan anak-anak pada perilaku-perilaku selfish, ego-centrism,merasa paling benar,sulit bergaul, mudah panik, mudah tersinggung, kurang berbagi, dan seterusnya.
Guru-guru ini mengajarkan life skills, bukan sekadar soft skills, apalagi hard skill. Berbeda dengan guru kognitif yang tak punya waktu berbicara tentang kehidupan, mereka justru bercerita tentang kehidupan (context) yang didiami anak didik. Namun, lebih dari itu, mereka aktif menggunakan segala macam alat peraga. Bagi mereka, memori tak hanya ada di kepala, tapi juga ada di seluruh tubuh manusia.
Memori manusia yang kedua ini dalam biologi dikenal sebagai myelin dan para neuroscientistmodern menemukan myelin adalah lokomotif penggerak (muscle memory). Di dalam ilmu manajemen, myelin adalah faktor pembentuk harta tak kelihatan (intangibles) yang sangat vital seperti gestures, bahasa tubuh, kepercayaan, empati, keterampilan,disiplin diri,dan seterusnya.
Saat bertemu guru-guru kognitif, saya sempat bertanya apakah mereka menggunakan alat-alat peraga yang disediakan di sekolah? Saya terkejut, hampir semua dari mereka bilang tidak perlu, semua sudah jelas ada di buku. Beberapa di antara mereka bahkan tidak tahu bahwa sekolah sudah menyediakan mikroskop dan alatalat bantu lainnya. Sebaliknya,guru-guru kreatif mengatakan: ”Kalau tidak ada alat peraga,kita akan buat sendiri dari limbah.
Kalau perlu, kita ajak siswa turun ke lapangan mengunjungi lapangan. Kalau tak bisa mendatangkan Bapak ke dalam kelas, kita ajak siswa ke rumah Bapak,”ujarnya. Saya tertegun. Seperti itulah guru-guru yang sering saya temui di negara-negara maju. Di negara-negara maju lebih banyak guru kreatif daripada guru kognitif. Mereka tak bisa mencetak juara Olimpiade Matematika atau Fisika,tetapi mereka mampu membuat generasi muda menjadi inovator, entrepreneur, dan CEO besar.
Mereka kreatif dan membukakan jalan menuju masa depan. Saat membuat disertasi di University of Illinois, para guru besar saya bukan memaksa saya membuat tesis apa yang mereka inginkan, melainkan mereka menggali dalam-dalam minat dan objektif masa depan saya. Sewaktu saya bertanya, mereka menjawab begini: ”Anda tidak memaksakan badan Anda pada baju kami, kami hanya membantu setiap orang untuk membuat bajunya sendiri yang sesuai dengan kebutuhannya.” Selamat merayakan Hari Pendidikan dan jadilah guru yang mengantarkan kaum muda ke jendela masa depan mereka.
RHENALD KASALI
Ketua Program MM UI